Yang lebih penting dari itu adalah membangun rantai komunikasi dari otoritas terdepan dalam hal ini adalah BPBD yang bertugas melakukan pengamatan. Karena rantai komunikasi penting dilakukan untuk mendetiminasi atau menyampaikan kepada masyarakat terdekat dengan lokasi erupsi, sehingga dapat memberikan arahan kepada masyarakat yang lebih luas (dari hulu ke hilir) dalam mengambil tindakan tercepat apabila erupsi terjadi dan membahayakan keselamatan orang banyak. Karena dalam keadaan seperti ini tidak ada institusi yang mampu bekerja sendiri, sehingga kerjasama antara instansi terkait (TNI-POLRI dan Relawan) menjadi sangat penting untuk berbagi peran agar lebih kuat dalam penanganan bencana.
Mengutamakan kekuatan peran serta lokal (masyarakat setempat) salah satunya membentuk relawan dari masyarakat setempat menjadi sangat penting untuk mengetahui dan menentukan tempat atau jalur evakuasi sebagai kekuatan terdepan, karena tentunya masyarakat sekitar akan lebih mengetahui terkait jalur evakuasi teraman untun warga sekitar Gunung yang sedang mengalami erupsi.
Dengan berbagi beban bersama relawan yang merupakan warga setempat tentu saja akan mempermudah penanganan, termasuk mulai menyiapkan posko pengungsian, jalur evakuasi, penyiapan konsumsi dan alat-alat.
Selain beberapa hal penting yang terurai diatas sesuai kumpulan catatan dari Sekretaris Daerah Dewa Indra yang sempat secara langsung menangani sejumlah bencana di Bali salah satunya erupsi Gunung Agung, beliau juga menyampaikan bahwa membuat rencana cadangan (contigency plan) sehingga kita tidak gagap dalam menangani dan menghadapi bencana-bencana yang kemungkinan akan berulang dengan jangka waktu yang belum pernah kita ketahui terjadinya, yang kemudian dilanjutkan dengan gladi lapangan bersama TNI-Polri. “Sehingga ketika terjadi lagi bencana selanjutnya kita akan aiap untuk melakukan operasional plan”, tegas Sekda Dewa Indra.
Persoalan bandara juga menjadi penting karena saat erupsi gunung agung menyebabkan terganggunya penerbangan yang menyebabkan tertutupnya bandara, sehingga oenting dilakukan pintu masuk terutama bandara atau jalur komunikasi alternatif, sehingga jika terjadi bencana kita semua memiliki bandara alternatif. “Pentingnya memiliki jalur komunikasi alternatif agar masih memiliki sumber mengalirkan daya pertolongan bencana tetapi untuk tetap menghidupkan perekonomian. Karena bandara tertutup, arus kedatangan tertutup, wisatawan tertutup maka kami akan mengalami bencana dan tidak ada perputaran ekonomi yang menyebabkan kami mengalami dua kali hantaman, hal ini menjadi pelajaran bagi Bali untuk mengambil langkah alternatif dalam menghadapi bencana ke depan,” tegas Sekda Dewa Made Indra. (CF/HpB)




Discussion about this post