Balipustakanews.com, Denpasar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali (BPBD) telah menyiapkan langkah mitigasi terhadap ancaman kekeringan ekstrem. Direktur Utama BPBD Bali (Kalaksa) I Made Rentin mengatakan ada beberapa rekomendasi untuk melakukan mitigasi dan persiapan peralihan musim hujan ke musim kemarau.
“Melakukan tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya angin kencang, hujan lebat dalam waktu singkat dan perubahan musim atau masa peralihan,” kata Rentin, Kamis (30 Mei).
Menurut BPBD Bali, masa transisi terjadi pada bulan-bulan tertentu yakni Maret, April hingga Mei. Harapan terhadap BPBD Bali lebih tinggi di wilayah yang diperkirakan akan mengalami musim kemarau lebih lama dari biasanya. “Khususnya pada tanaman pertanian dan pekarangan yang sensitif terhadap hujan lebat,” imbuh pria asal Badung ini.
Selain itu, sebagai langkah mitigasi, optimalisasi sumber daya air di penghujung musim hujan juga diperlukan. Karena mengurangi risiko berkurangnya hasil panen di sawah. “Jadi penyediaan air untuk kebutuhan pertanian harus dilakukan lebih hemat”, jelasnya.
Menurut Rentin, BPBD Bali juga telah menyiapkan armadanya untuk menghadapi musim kemarau. Tujuh saluran air dalam keadaan siaga akibat kekeringan musiman dan kebakaran hutan dan lahan satu unit di BPBD Buleleng dan satu unit di BPBD Karangasem,” jelasnya.
Sebanyak 390 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) juga siap menangani karhutla di musim kemarau dan kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah memasuki musim kemarau.
Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami 21-30 hari tanpa hujan. Kekeringan bisa berlangsung lebih lama.
Analisis curah hujan BMKG juga menunjukkan kekeringan mulai merambah wilayah Indonesia, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa. Direktur BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, 19 persen zona musiman di Indonesia sudah memasuki musim kemarau.
“Sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan akan segera memasuki musim kemarau dalam tiga dekade mendatang. Kekeringan ini akan terjadi di Indonesia hingga akhir September,” kata Dwikorita di Jakarta. , Selasa (28/5). (PR/DTK)




Discussion about this post